Allah Ta’ala berfirman, “Dan infakkanlah dari apa yang Kami rizkikan kepadamu sebelum kematian mendatangi salah seorang di antaramu, kemudian ia berkata, “Kalau saja Engkau mengakhirkan (waktu kematian) ku, sehingga aku bisa bersedekah, dan aku menjadi menjadi orang-orang shalih.” (al Munafiqun : 10).
Para ulama’ menjelaskan bahwa di antara bentuk amalan yang paling banyak disesali oleh orang yang dijemput kematian adalah SEDEKAH. Mereka ingin diberi kesempatan tambahan, agar bisa bersedekah. Bisa berinfak untuk menambah pundi-pundi amal shalehnya. Oleh karenanya, para generas salaf gemar bersedekah sebagai bentuk pengamalan ayat ini.
Dan di antara orang yang mudah bersedekah dan berbagi dengan sesama adalah Rabi’ bin Khutsaim. Sungguh, kedermawanannya sangat menakjubkan.
Sa’id al Haritsi menceritakan bahwa Rabi’ bin Khutsaim terkena lumpuh, sehingga sakitnya lama. Suatu saat, beliau berkeingan sekali untuk memakan daging ayam namun beliau menahan dirinya selama 40 hari. Baru kemudian beliau meminta kepada istrinya, “Sebenarnya aku ingin sekali memakan daging ayam sejak 40 hari yang lalu, namun diri ini tidak mau kompromi. Ia masih ingin mencicipi daging ayam.”
Istrinya pun menjawab, “Subhanallah. Kenapa engkau harus menahan diri untuk memakannya? Padahal Allah menghalalkannya untukmu.” Lalu, istirinya pergi ke pasar untuk membeli ayam seharga 1 dirham 2 daniq. Kemudian ayam tersebut disembelih dan dipanggang, dan dilengkapi dengan roti. Kemudian hidangan yang sudah siap saji itu diletakkan di nampan dan diletakkan di depan suaminya, Rabi’ bin Khutsaim.
Tetapi ketika ingin makan, ada seorang pengemis yang berdiri di depan pintu rumahnya, sembari berkata, “Tashaddaqu ‘alayya, barakALLAHu fiku….bersedekahlah kepadaku, semoga Allah memberkahimu.”
Pada saat itu juga, Rabi’ tidak jadi makan, dan memerintahkan kepada istrinya, “Ambil makanan ini dan berikan kepada pengemis itu.”
Merasa sudah bersusah payah menyiapkan makanan untuk suaminya tercinta, dan makanan itu belum sempat dicicipi, padahal makanan itu sudah diminati 40 hari yang lalu, istrinya berkata, “Subhanallah.”
Rabi’ berkata, “Sudah, lakukan saja apa yang aku perintahkan. Berikan makanan ini kepada pengemis yang ada di depan pintu rumah kita itu.”
Akhirnya, istrinya memberikan usulan, “Aku akan melakukan sesuatu yang paling baik dan lebih ia cinta daripada makanan ini.”
“Apa itu?” Tanya Rabi’ penasaran.
Dengan tersenyum, istrinya mengutarakan usulannya, “Kita berikan saja harga sesuai dengan harga makanan ini dan engkau tetap memakan daging ayam ini. Bagaimana ?”
“Usulanmu bagus. Sekarang, ambilkan dirham seharga makanan itu.” Pinta Rabi’
Istrinya dengan hati senang mengambil dirham seharga makanan yang ia buat untuk suaminya tadi; ayam, roti dan lauk pauk.
Adakah yang istimewa? Ini akhir kisahnya. Setelah istrinya mengambil uang, Rabi’ bin Khutsaim memerintahkan kepada istrinya, “Letakkan uang itu di atas nampan ini, dan berikan semuanya kepada pengemis itu.” Subhanallah.
Kisah lainnya bersumber dari Mundzir. Ia mengisahkan bahwa Rabi’ pernah memerintahkan kepada keluarganya, “Buatkanlah khabish untukku.” Lalu keluarganya membuatkan khabish (kue) untuk beliau. Sehabis matang, beliau langsung mengundang tetangganya yang tertimpa musibah. Kemudian orang tersebut memakan dengan lahap, dan air liurnya belepotan mengalir dari mulutnya. Keluarganya berkata, “Ma yadri hadza ma ya’kul, Orang ini tidak tahu, apa yang dia makan?.” Tetapi Rabi’ berkata mengingatkan, “LakinnALLAHa ‘azza wa jalla yadri, tetapi Allah tahu.”
Sabtu, 09 Oktober 2010
Berinfaq Adalah Orang-Orang Shalih
Tags
Berbagi itu baik, silahkan di-Share..
Artikel Terkait
shahib abdullah
Shahib Abdullah, Pendiri Shahibmedia, Pendidik dalam sebuah lembaga tepatnya MTs dan MA Darussalam Anrong Appaka. Baca profil Shahib selengkapnya, klik di sini...
Komentar Facebook :
Komentar dengan Akun Google :
Posting Komentar
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
