Kamis, 12 Juli 2012

Tags


PENDIDIKAN ISLAM
(Konsep-Konsep Islam dan Masyarakat Modern)
oleh : Muhammad Shahib A.

I. PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Upaya untuk memajukan umat dan pendidikan Islam telah lama dilakukan oleh para ulama dan tokoh muslim periode klasik (570 -750 M) sampai sekarang. Mereka telah menyusun karya tulis dari berbagai disiplin ilmu dan melakukan gerakan dengan mendirikan institusi sosial-keagamaan. Tempat ibadah dan lembaga pendidikan merupakan bukti adanya upaya memajukan umat dan pendidikan Islam.
Memudarnya masa kejayaan umat Islam yang bersifat sistemik, kompleks dan multi-faktor oleh para analis acap kali menisbatkan; pertama, unsur politik sebagai faktor dominan. Kedua, adanya kekuatan eksternal yang mulai masuk ke dunia Islam. Ketiga, adanya penutupan pintu ijtihad, kemujudan berpikir, budaya taqlid. Keempat, adanya isu-isu sektarianisme yang mewarnai masa-masa kemunduran Islam.[1] Kelima, adanya sikap alergi terhadap filsafat.[2]
Pendidikan merupakan proses internalisasi nilai, sebagai upaya penanaman nilai-nilai dalam keseluruhan proses pcmbelajaran untuk mencapai suatu tujuan tertentu, nilai-nilai yang termuat dalam Al-Quran dan h}adi@s merupakan ciri khas pendidikan Islam. Pendidikan merupakan investasi human resources, bahwa proses pendidikan dilakukan oleh manusia dan untuk manusia sebagai peningkatan kualitas sumber daya manusia agar menjadi manusia yang sadar akan fungsi hidupnya di dunia sebagai hamba Alla@h swt dan khalifah fi al-‘ard}, dan pendidikan sebagai sarana memajukan peradaban.
Praktik pendidikan Islam selalu mengalami dinamika dan pasang surut. Masa sekarang memuat pengaruh unsur-unsur masa lampau termasuk di dalammya adalah masa depan, unsur-unsur saat ini mempengaruhi perjalanan arah masa depan.[3] Sehingga peradaban senantiasa mengalami masa pertumbuhan (rise), puncak kejayaan (peak), dan kemunduran (decline).
Perubahan pendidikan harus relevan dengan perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat pada era tersebut, baik pada konsep, materi dan kurikulum, proses maupun fungsi serta tujuan lembaga-lembaga pendidikan. Pendidikan Islam sekarang ini dihadapkan pada tantangan kehidupan manusia modern. Menurut Kuhn yang dikutip oleh H.A.R. Tilaar, apabila tantangan-tantangan baru tersebut dihadapi dengan menggunakan paradigma lama, maka segala usaha yang dijalankan akan menemui kegagalan.[4] Untuk itu, pendidikan Islam perlu didesain untuk menjawab tantangan perubahan zaman, baik pada sisi konsep maupun kurikulum, kualitas sumber daya manusia (SDM), lembaga-lembaga dan organisasinya, maupun melakukan konstruksi agar dapat relevan dengan perubahan masyarakat.

B.    Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mengemukakan permasalahan pokok yaitu bagaimana konsep-konsep Islam dan masyarakat Modern dalam perspektif pendidikan Islam ?. Sebagai sub permasalahan adalah:
1.      Bagaimana pendidikan menurut konsep Islam ?
2.      Bagaimana konsep pendidikan Islam dan masyarakat modern ?
3.      Bagaimana desain pendidikan Islam ?


II.          PEMBAHASAN
A.    Konsep-Konsep Pendidikan Islam
Pendidikan dalam pendidikan Islam dikenal dengan istilah al-tarbiyah, al-ta’lim, dan al-ta’d}ib.
Para ahli memberikan definisi al-tarbiyah, sebagai berikut; Pertama, Menurut al-Qurtubi@, bahwa arti ar-rab adalah pemilik, tuan, maha memperbaiki, yang maha pengatur, yang maha mengubah, dan yang maha menunaikan.[5] Kedua, Menurut Louis al-Ma’luf, ar-rab berarti tuan, pemilik, memperbaiki, perawatan, tambah dan rnengumpulkan.[6] Ketiga, Menurut Fat}h}ur Ra@z}i, ar-rab merupakan fonem yang seakar dengan al-tarbiyah, yang mempunyai arti at-Tanwiya@h yang berarti  (pertumbuhan dan perkembangan).[7] Keempat,  al-Jauhari dalam al-Abra@sy memberi arti kata at-tarbiyah dengan rabban dan rabba dengan memberi makan, mernelihara dan mengasuh.[8] Tarbi@yah mempunyai arti yang luas antara lain; memiliki, menguasai, mengatur, memelihara, memberi makan, menumbuhkan, mengembangkan dan berarti pula mendidik.
Pendidikan Islam diidentikkan dengan at-ta’li@m, para ahli memberikan pengertian sebagai berikut; Pertama, Abdul Fattah} Jalal, mendefinisikan al-ta’li@m sebagai proses pemberian pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, dan penanaman amanah. At-ta’li@m menyangkut aspek pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan seseorang dalam hidup serta pedoman perilaku yang baik.
At-ta’li@m merupakan proses yang terus menerus diusahakan semenjak dilahirkan, sebab manusia dilahirkan tidak rnengetahui sesuatu apapun, tetapi ia dibekali dengan berbagai potensi yang mempersiapkan dirinya untuk meraih dan memahami ilmu pengetahuan serta memanfaatkanya dalam kehidupan.[9]
Kedua, Rasyid Rid}a mengemukakan at-ta’li@m adalah proses transimisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu Definisi ini berpijak pada firman Alla@h swt dalam QS. Al-Baqarah/2 :31;
zN¯=tæur tPyŠ#uä uä!$oÿôœF{$# $yg¯=ä. §NèO öNåkyÎztä n?tã Ïps3Í´¯»n=yJø9$# tA$s)sù ÎTqä«Î6/Rr& Ïä!$yJór'Î/ ÏäIwàs¯»yd bÎ) öNçFZä. tûüÏ%Ï»|¹ ÇÌÊÈ    
Terjemahnya :
Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!.
Pengertian at-ta’li@m lebih luas atau lebih umum sifatnya daripada istilah at-tarbiyah yang khusus berlaku pada anak-anak. Hal ini karena at-ta’li@m mencakup fase bayi, anak-anak, remaja, dan orang dewasa, sedangkan at-tarbiyah oleh Rasyid Rid}a, menguaraikan bahwa at-tarbiyah khusus pendidikan dan pengajaran pada fase bayi dan anak-anak.[10]
Ketiga, Sekh Muh}ammad an-Naquid al-Attas, mengartikan at-ta’li@m disinonimkan dengan pengajaran tanpa adanya pengenalan secara mendasar, namun bila at-ta’li@m disinonimkan dengan at-tarbiyah, at-ta’li@m mempunyai arti pengenalan tempat segala sesuatu dalam sebuah sistem.[11] Menurutnya ada hal yang rnembedakan antara at-tarbiyah dengan at-ta’li@m yaitu pada ruang lingkupnya. At-ta’li@m lebih umum daripada at-tarbiyah, karena at-tarbiyah tidak mencakup segi pengetahuan dan hanya mengacu pada kondisi eksistensial dan juga at-tarbiyah merupakan terjemahan dari bahasa latin education, yang keduanya mengacu kepada segala sesuatu yang bersifat fisik-mental, tetapi sumbernya bukan dari wahyu.
Keempat, Pengunaan at-ta’d}ib, menurut Naquib al-Atta@s lebih cocok untuk digunakan dalarn pendidikan Islam, menurutnya konsep inilah yang diajarkan oleh Rasul. At-ta’d}ib berarti pengenalan, pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dan segala sesuatu dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan dalam tatanan wujud dan keberadaanya.[12]
Kelima, Menutut Muh}ammad At}iyah} al-Abra@sy, pengertian at-ta’li@m berbeda dengan pendapat di atas, ia mengatakan bahwa; at-ta’li@m lebih khusus dibandingkan dengan at-tarbiyah, karena at-ta’li@m hanya merupakan upaya menyiapkan individu dcngan mengacu pada aspek-aspek tertentu saja, sedangkan at-tarbiyah mencakup keseluruhan aspek-aspek pendidikan.[13]
Pendidikan Islam adalah proses transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam pada peserta didik melalui penumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya untuk mencapai keseimbangan dan kesempurnaan hidup dalarn segala aspeknya.[14]
 Proses tranformasi dan internalisasi, merupakan upaya yang harus dilakukan secara berangsur-angsur, berjenjang dan istiqa@mah}, penanaman nilai/ilmu, pengarahan, pengajaran dan pembimbingan kepada peserta didik dilakukan secara terencana, sistematis dan terstuktur dengan menggunakan pola, pendekatan dan metode/sistem tertentu.
Kecintaan kepada Ilmu pengetahuan, yaitu upaya yang diarahkan pada pemberian dan pengahayatan, pengamalan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan yang berciri khas Islam, dengan disandarkan kepada peran dia sebagai khalifah fil ard}i dengan pola hubungan dengan Alla@h (h}ablun min Alla@h), sesama manusia (h}ablun minanna@s) dan hubungan dengan alam sekitas (h}ablun min al-‘alam).
Pendidikan Islam memuat nilai insani@ah dan ilah}iyah. Agama Islam adalah sumber akhlak, kedudukan akhlak sangatlah penting sebagai pelengkap dalam menjalankan fungsi kemanusiaan di bumi. Pendidikan merupakan proses pembinaan akhlak pada jiwa. Meletakkan nilai-nilai moral pada peserta didik harus diutamakan.[15] Nilai-nilai ketuhanan harus dikedepankan, pendidikan Islam haruslah memperhatikan pendidikan akhlak atau nilai dalam setiap pelajaran dan tingkat dasar sampai tingkat tertinggi dan mengutamakan fad}ilah dan sendi moral yang sempurna.
Prinsip keseimbangan hidup dalam pendidikan Islam meliputi;
a.      Keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.
b.      Keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani.
c.      Keseimbangan antara kepentingan individu dan sosial.
d.      Keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan amal
e.      Persamaan dalam menerima pendidikan
f.       Pendidikan seumur hidup.[16]
Problema pendidikan Islam adalah problema sistemik pendidikan. Artinya, permasalahan menyangkut keseluruhan komponen pendidikan, mulai dari pemerintah sebagai pengambil kebijakan sistem pendidikan nasional, manajerial pemerintah, kompetensi guru/dosen, sarana-prasarana, kurikulum, dukungan masyarakat dan lain sebagainya.

B. Pendidikan Islam dan Masyarakat Modern
Pendidikan Islam, suatu pendidikan yang melatih perasaan peserta didik dengan cara begitu rupa sehingga dalam sikap hidup, tindakan, keputusan, dan pendekatan mereka terhadap segala jenis pengetahuan dipengaruhi oleh nilai-nilai spritual dan sangat sadar akan nilai etis keislaman,[17]  atau pendidikan Islam mengantarkan rnanusia pada perilaku dan perbuatan manusia yang berpedoman pada syariat Alla@h swt.[18] Pendidikan Islam tidaklah sekedar transfer of knowledge ataupun transfer of training, tetapi lebih merupakan suatu sistem yang ditata di atas pondasi keimanan dan kesalehan, yakni suatu sistem yang terkait secara langsung dengan Tuhan.[19]  Pendidikan Islam merupakan suatu kegiatan yang mengarahkan dengan sengaja perkembangan seseorang sesuai atau sejalan dengan nilai-nilai Islam.
Pendidikan merupakan sistem untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan. Sejarah umat manusia, pendidikan digunakan sebagai alat pembudayaan dan peningkatan kualitas. Pendidikan dibutuhkan untuk menyiapkan anak manusia demi menunjang perannya di masa datang. Upaya pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa memiliki hubungan yang signifikan dengan rekayasa bangsa tersebut di masa mendatang. Dengan demikian, pendidikan merupakan sarana terbaik untuk menciptakan suatu generasi baru yang tidak akan kehilangan ikatan dengan tradisi mereka tapi juga sekaligus tidak menjadi tertinggal secara intelektual atau terbelakang dalam pendidikan mereka atau tidak menyadari adanya perkembangan disetiap cabang pengetahuan manusia.
Pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia yang berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan selalu berkembang, dan selalu dihadapkan pada perubahan zaman.[20] Oleh karena itu pendidikan harus di desain mengikuti irama perubahan tersebut, apabila pendidikan tidak di desain mengikuti irama perubahan maka pendidikan akan ketinggalan dengan lajunya perkembangan zaman itu sendiri.
Siklus perubahan pendidikan pada di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut; Pendidikan dari masyarakat, didesain mengikuti irama perubahan dan kebutuhan masyarakat. Misalnya, pada peradaban masyarakat agraris, pendidikan di desain relevan dengan irama perkembangan peradaban masyarakat agraris dan kebutuhan masyarakat pada era tersebut. Begitu juga pada peradaban masyarakat industrial dan informasi, pendidikan didesain mengikuti irama perubahan dan kebutuhan masyarakat pada era industri dan informasi.[21] Demikian siklus perkembangan perubahan pendidikan. Kalau tidak, pendidikan akan ketinggalan dari perubahan zaman yang begitu cepat. Untuk itu, perubahan pendidikan harus relevan dengan perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat pada era tersebut, baik pada konsep, materi dan kurikulum, proses, fungsi serta tujuan lembaga-lembaga pendidikan.
Pendidikan Islam sekarang ini dihadapkan pada tantangan kehidupan manusia modern. Dengan demikian, pcndidikan Islam harus diarahkan pada kebutuhan perubahan masyarakat modern. Dalam rnenghadapi suatu perubahan, diperlukan suatu desain paradigma baru di dalam menghadapi tuntutan-tuntutan yang baru, demikian dikatakan oleh filusuf  Kuhn. Menurutnya, apabila tantangan-tantangan baru tersebut dihadapi dengan menggunakan paradigma lama, maka segala usaha yang dijalankan akan rnemenuhi kegagalan.[22] Oleh karena itu, pendidikan Islam perlu didesain untuk menjawab tantangan perubahan zaman tersebut, baik pada sisi konsepnya, kurikulum, kualitas sumber daya insan, lembaga-lembaga dan organisasinya, serta mengkonstruksinya agar dapat relevan dengan perubahan masyarakat tersebut.
Pendapat Alvin Tofler dalam H.A.R. Tilaar, mengemukakan tentang peradaban manusia, yaitu; (1) peradaban yang dibawa oleh penemuan pertanian, (2) peradaban yang diciptakan dan dikembangkan oleh revolusi industri, dan (3) peradaban baru yang tengah digerakkan oleh revolusi kornunikasi dan informasi. Perubahan terbesar yang diakibatkan oleh gelombang ketiga adalah, terjadinya pergeseran yang mendasar dalarn sikap dan tingkah laku rnasyarakat.[23]
Salah satu ciri utama kehidupan di masa sekarang dan masa yang akan datang adalah cepatnya terjadi perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Banyak paradigma yang digunakan untuk menata kehidupan, baik kehidupan individual maupun kehidupan organisasi yang pada waktu yang lalu sudah mapan, kini menjadi ketinggalan zaman.[24] Secara umum masyakarat modern adalah masyarakat yang pro-aktif, individual dan kompetitif.
Masyarakat modern dewasa ini yang ditandai dengan munculnya pasca industri (postindustrial society), seperti dikatakan Daniel Bell, masyarakat informasi (information society) sebagai tahapan ketiga dan perkembangan peradaban, tak pelak lagi telah menjadikan kehidupan manusia secara teknologis rnemperoleh banyak kemudahan. Tetapi juga masyarakat modern menjumpai banyak paradoks dalam kehidupannya.[25]
Revolusi informasi, semakin banyak informasi dan semakin banyak pengetahuan mestinya makin besar kemampuan melakukan pengendalian umum. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, semakin banyak informasi telah menghadirkan kesadaran bahwa segala sesuatunya tidak terkendali. Karena itu, Ziauddin Sardar, menyatakan bahwa abad informasi ternyata sama sekali bukan rahmat. Di masyarakat Barat, ia telah menimbulkan banyak persoalan besar, yang tidak ada pemecahannya kecuali cara pemecahan yang tumpul. Di lingkungan masyarakat sendiri, misalnya telah terjadi swastanisasi televisi, masyarakat rnulai merasakan ekses negatifnya.[26]
Perkembangan peradaban modern yang semakin kehilangan jangkar spritual dengan segala dampak destruktifnya pada berbagai dimensi kehidupan manusia. Teknologi tanpa kendali moral lebih merupakan ancaman. Ancaman terhadap kehidupan sekarang, bukanlah ancaman terhadap satu kelas, satu bangsa, tetapi merupakan ancaman terhadap semua.[27]
Sistem pendidikan tinggi modern yang kini berkembang di seluruh dunia lebih merupakan pabrik doktor yang kemudian menjadi tukang-tukang tingkat tinggi, bukan melahirkan homo sapiens.[28] Bangsa-bangsa Muslim pun terjebak dan terpasung dalam arus sekuler dalam penyelenggaraan pendidikan tingginya. Belum mampunya menampilkan corak pendidikan alternatif terhadap arus besar high learning yang dominan dalam peradaban sekuler sekarang ini.
Dampak dari semua kemajuan masyarakat modern, kini dirasakan demikian fundamental. Ini dapat ditemui dari beberapa konsep yang diajukan oleh kalangan agamawan, ahli filsafat dan ilmuan sosial untuk menjelaskan persoalan yang dialami oleh rnasyarakat. Misalnya, konsep keterasingan (alienation) dari Marx dan Erich Fromm, dan konsep anomie dan Durkheim. Baik alienation maupun anomie mengacu kepada suatu keadaan manusia secara personal sudah kehilangan keseimbangan diri dan ketidakberdayaan eksistensial akibat dari benturan struktural yang diciptakan sendiri. Dalam keadaan seperti ini, manusia tidak lagi merasakan dirinya sebagai pembawa aktif dari kekuatan dan kekayaannya, tetapi sebagai benda yang dimiskinkan, tergantung kepada kekuatan di luar dirinya, kepada siapa ia telah memproyeksikan substansi hayati dirinya.[29]
Semua persoalan fundamental yang dihadapi oleh masyarakat modern yang digambarkan di atas, menjadi pemicu munculnya kesadaran epistimologi baru bahwa persoalan kemanusian tidak cukup diselesaikan dengan cara empirik rasional, tetapi perlu jawaban yang bersifat transendental.[30] Melihat persoalan ini, ada peluang bagi pendidikan Islam yang memiliki kandungan spritual keagamaan untuk menjawab tantangan perubahan tersebut.
Fritjop Capra dalam buku The Turning Point dalam A. Malik Fadjar, mengajak untuk meninggalkan paradigma keilmuan yang terlalu materialistik yang mengenyampingkan aspek spritual keagamaan.[31] Demikianlah, agama pada akhirnya dipandang scbagai alternatif paradigma yang dapat memberikan solusi secara mendasar terhadap persoalan kemanusian yang sedang dihadapi oleh masyarakat modern.
Mencermati fenomena peradaban modern yang dikemukakan di atas, harus disikapi secara arif dalam merespons fenornena-fenomena tersebut. Dalarn arti, jangan melihat peradaban modern dan sisi unsur negatifnya saja, tetapi perlu juga merespons unsur-unsur positifnya yang banyak memberikan manfaat dan mempengaruhi kehidupan manusia.
Produk peradaban modern jangan sampai memperbudak manusia atau manusia menghambakan produk tersebut, tetapi manusia harus menjadi tuan, mengatur, dan memanfaatkan produk perabadaban modern tersebut secara maksimal.
Konsep pendidikan modern, yaitu  pendidikan yang menyentuh setiap aspek kehidupan peserta didik, pendidikan merupakan proses belajar yang terus menerus, pendidikan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi dan pengalaman, baik di dalam maupun di luar situasi sekolah, pendidikan dipersyaratkan oleh kemampuan dan minat peserta didik, juga tepat tidaknya situasi belajar dan efektif tidaknya cara mengajar.[32] Pendidikan pada masyarakat modern atau masyarakat yang tengah bergerak ke arah modern (modernizing), seperti masyarakat Indonesia, pada dasarnya berfungsi memberikan kaitan antara peserta didik dengan lingkungan sosial kulturnya yang terus berubah dengan cepat.
Azyumardi Azra, mengemukakan bahwa fungsi pokok pendidikan dalam masyarakat modern yang tengah terbangun terdiri dan tiga bagian: (1) sosialisasi, (2) pembelajaran (schooling), dan (3) pendidikan (education). [33] Pertama, sebagai lembaga sosialisasi, pendidikan adalah wahana bagi integrasi peserta didik ke dalam nilai-nilai kelompok atau nasional yang dominan. Kedua, pembelajaran (schooling) mempersiapkan mereka untuk mencapai dan menduduki posisi sosial-ekonomi tertentu dan pembelajaran harus dapat membekali peserta didik dengan kualifikasi-kualifikasi pekerjaan dan profesi yang akan membuat mereka mampu memainkan peran sosial-ekonomis dalam masyarakat. Ketiga, pendidikan merupakan education untuk menciptakan kelompok elit yang pada gilirannya akan memberikan sumbangan besar bagi kelanjutan program pembangunan.

C.   Desain Pendidikan Islam
Perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat baik sosial maupun kultural, secara makro persoalan yang dihadapi pendidikan Islam adalah bagaimana pendidikan Islam mampu rnenghadirkan desain atau konstruksi wacana pendidikan Islam yang relevan dengan perubahan masyarakat. Kemudian desain wacana pendidikan Islam tersebut dapat dan mampu ditranspormasikan atau diproses secara sistematis dalam masyarakat. Pendidikan Islam perlu menghadirkan suatu konstruksi wacana pada tataran filosofis, wacana metodologis, dan juga cara menyampaikan atau mengkomunikasikannya.
Dalam menghadapi peradaban modern, yang perlu diselesaikan adalah persoalan-persoalan umum internal pendidikan Islam yaitu; (1) persoalan dikotomik, (2) tujuan dan fungsi lembaga pendidikan Islam, (3) persoalan kurikulum atau materi.[34] Ketiga persoalan ini saling interdependensi antara satu dengan lainnya.
Pertama, Persoalan dikotomik pcndidikan Islam, yang merupakan persoalan lama yang belum terselesaikan sampai sekarang. Pendidikan Islam harus menuju pada integritas antara ilmu agama dan ilmu umum untuk tidak melahirkan jurang pemisah antara ilmu agama dan ilmu bukan agama. Pandangan seorang muslim, ilmu pengetahuan adalak satu yaitu yang berasal dan Alla@h swt.[35]
Mengenai persoalan dikotomi, Faz}h}ur Rahma@n, mengemukakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah dengan menerima pendidikan sekuler modern sebagaimana telah berkembang secara umumnya di dunia Barat dan mencoba untuk mengislamkannya, yakni mengisinya dengan konsep-konsep kunci tertentu dan Islam. Persoalannya adalah bagaimana melakukan modernisasi pendidikan Islam, yakni membuatnya mampu untuk produktivitas intelektuai Islam yang kreatif dalam semua bidang usaha intelektual bersama-sama dengan keterkaitan yang serius kepada Islam,[36]  mengatakan bila konsep dualisme dikotomik berhasil ditumbangkan, dalam jangka panjang sistem pendidikan Islam juga akan berubah secara keseluruhan, mulai dan tingkat dasar sampai ke perguruan tinggi.
Kedua, perlu pemikiran kembali tentang tujuan dan fungsi lembaga-lembaga pendidikan Islam yang ada.[37] Memang diakui bahwa penyesuaian lembaga-lembaga pendidikan akhir-akhir ini cukup menggembirakan. Artinya, lembaga-lembaga pendidikan memenuhi keinginan untuk menjadikan lembaga-lembaga tersebut sebagai tempat untuk mempelajari ilmu umum dan ilmu agama serta keterampilan. Tetapi pada kenyataannya penyesuaian tersebut lebih merupakan peniruan dengan pola tambal sulam atau dengan kata lain mengadopsi model yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan umum. Artinya, ada perasaan harga diri bahwa apa yang bisa dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan umum dapat juga dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan agama.
Beban kurikulum yang terlalu banyak, cukup berat dan terjadi tumpang tindih. Sebenarnya lembaga-lembaga pendidikan Islam harus memilih satu di antara dua fungsi, apakah mendesain model pendidikan umum Islami yang handal dan mampu bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan yang lain, atau mengkhususkan pada desain pendidikan keagamaan yang berkualitas, mampu bersaing, dan mampu mempersiapkan mujtahid-mujtahid yang berkualitas.
Ketiga, persoalan kurikulum atau materi Pendidikan Islam, meteri pendidikan Islam terlalu didominasi masalah-masalah yang bersifat normatif, ritual dan eskatologis. Materi disampaikan dengan semangat ortodoksi kegamaan, suatu cara di mana peserta didik dipaksa tunduk pada suatu metanarasi yang ada, tanpa diberi peluang untuk melakukan telaah secara kritis. Pendidikan Islam yang tidak fungsional dalam kehidupan sehari-hari, kecuali hanya sedikit aktivitas verbal dan formal untuk menghabiskan materi atau kurikulum yang telah diprogramkan dengan batas waktu yang telah ditentukan.[38]
Mencermati persoalan yang dikemukakan di atas, perlu menyelesaikan persoalan internal yang dihadapi pendidikan Islam secara mendasar dan tuntas. Sebab, pendidikan sekarang ini juga dihadapkan pada persoalan-persoalan yang cukup kompleks, yakni bagaimana pendidikan mampu mempersiapkan manusia yang berkualitas, bermoral tinggi dalam menghadapi perubahan masyarakat yang begitu cepat, sehingga produk pendidikan Islam tidak hanya melayani dunia modern, tetapi mempunyai pasar baru dan mampu bersaing secara kompetetif serta pro-aktif dalam dunia masyarakat modern.
Desain pendidikan Islami yang mampu menjawab tantangan perubahan ini, antara lain:
Pertama, lembaga-lembaga pendidikan Islam perlu mendesain ulang fungsi pendidikannya, dengan memilih apakah (1) model pendidikan yang mengkhususkan diri pada pendidikan keagamaan saja untuk mempersiapkan dan melahirkan ulama-ulama dan mujtah}id-mujtah}id tangguh dalam bidangnya dan mampu menjawab persoalan-persoalan aktual atau kontemporer sesuai dengan perubahan zaman, (2) model pendidikan umum Islami, kurikulumnya integratif antara materi-materi pendidikan umum dan agama untuk mempersiapkan intelektual Islam yang berfikir secara komprehensif, (3) model pendidikan sekuler modern dan mengisinya dengan konsep-konsep Islam, (4) atau menolak produk pendidikan barat, berarti harus mendesain model pendidikan yang betul-betul sesuai dengan konsep dasar Islam dan sesuai dengan lingkungan sosial-budaya, (5) pendidikan agama tidak dilaksanakan di sekolah-sekolah tetapi dilaksanakan di luar sekolah. Artinya, pendidikan agama dilaksanakan di rumah atau lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat berupa kursur-kursus, dan sebagainya.
Kedua, desain pendidikan harus diarahkan pada dua dimensi, yakni; (1) dimensi dialektika (horisontal), pendidikan hendaknya dapat mengembangkan pemahaman tentang kehidupan manusia dalam hubungannya dengan alam atau lingkungan sosialnya. Manusia harus mampu mengatasi tantangan dan kendala dunia sekitamya melalui pengembangan iptek, dan (2) dimensi ketundukan vertikal, pendidikan selain menjadi alat untuk memantapkan, memelihara sumber daya alami, juga menjembatani dalam memahami fenomena dan misteri kehidupan yang abadi dengan maha pencipta, berarti pendidikan harus disertai dengan pendekatan hati.[39]
Ketiga, sepuluh paradigma yang ditawarkan oleh Djohar, dapat digunakan untuk membangun paradigma baru pendidikan Islam, sebagai berikut : 1) pendidikan adalah proses pembebasan. 2) pendidikan sebagai proses pencerdasan. 3) pendidikan menjunjung tinggi hak-hak anak. 4) pendidikan menghasilkan tindakan perdamaian. 5) pendidikan adalah proses pemberdayaan potensi manusia. 6) pendidikan menjadikan peserta didik berwawasan integratif. 7) pendidikan wahana membangun watak persatuan. 8) pendidikan menghasilkan manusia demokratik. 9) pendidikan menghasilkan manusia yang peduli terhadap lingkungan. 10) sekolah bukan satu-satunya instrumen pendidikan.[40]
Tiga hal yang dikemukakan di atas merupakan tawaran desain pendidikan Islam yang perlu diupayakan untuk membangun paradigma pendidikan Islam dalam menghadapi perkembangan perubahan zaman modern dan memasuki era milenium ketiga. Kecenderungan perkembangan semacam dalam mengantisipasi perubahan zaman merupakan hal yang wajar-wajar saja. Sebab kondisi masyarakat sekarang ini lebih bersifat praktis-pragmatis dalam hal aspirasi dan harapan terhadap pendidikan,[41] sehingga tidak statis atau hanya berjalan di tempat dalam menatap persoalan-persoalan yang dihadapi pada era masyarakat modern dan post masyarakat modern. Untuk itu, Pendidikan dalam masyarakat modern pada dasarnya berfungsi untuk memberikan kaitan antara peserta didik dengan lingkungan sosio-kulturalnya yang terus berubah dengan cepat, dan pada saat yang sama, pendidikan secara sadar juga digunakan sebagai instrumen untuk perubahan dalarn sistem politik, ekonomi secara keseluruhan.
Pendidikan sekarang ini seperti dikatakan oleh Ace Suryadi dan H.A.R. Tilaar dalam Malik Fadjar, tidak lagi dipandang sebagai bentuk perubahan kebutuhan yang bersifat konsumtif dalam pengertian pemuasan secara langsung atas kebutuhan dan keinginan yang bersifat sementara. Tetapi, merupakan suatu bentuk investasi sumber daya manusia (human investment) yang merupakan tujuan utarna; pertama, pendidikan dapat membantu meningkatkan keterampilan dan pengetahuan untuk bekerja lebih produktif sehingga dapat meningkatkan penghasilan kerja lulusan pendidikan di masa mendatang. Kedua; pendidikan diharapkan memberikan pengaruh terhadap pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan (equality of education opportuniry).[42]
Selain itu, tampaknya pendidikan Islam harus menyiapkan sumber daya manusia dan lebih handal yang merniliki kompotensi untuk hidup bersama dalam era global. Menurut Djamaluddin Ancok, salah satu pergeseran paradigma adalah paradigma di dalam melihat apakah kondisi kehidupan di masa depan relatif stabil dan bisa diramaikan (predictability).[43] Pada milenium kedua orang selalu berpikir bahwa segala sesuatu bersifat stabil dan bisa diprediksi. Tetapi, pada milenium ketiga semakin sulit untuk melihat adanya stabilitas tersebut. Apa yang terjadi di depan semakm sulit untuk diprediksi karena perubahan menjadi tidak terpolakan dan tidak lagi bersifat linier.
Pendidikan Islam sekarang ini didesain tidak lagi bersifat linier tetapi harus didesain bersifat lateral dalam menghadapi perubahan zaman yang begilu cepat dan tidak terpolakan. Untuk itu, lebih lanjut Djamaluddin Ancok yang mengutip Hartanto, mengatakan bahwa pendidikan, termasuk pendidikan Islam harus mempersiapkan ada empat kapital yang diperlukan untuk mernasuki milenium ketiga, yakni kapital intelektual, kapital sosial, kapital lembut, dan kapital spritual.
Tantangan ini tidak mudah untuk penyelesaiannya, tidak seperti rnembalikkan telapak tangan.  Untuk itu, pendidikan Islam sangat perlu mengadakan perubahan atau mendesain ulang konsep, kurikulum dan materi, fungsi dan tujuan lembaga-lembaga, proses, agar dapat memenuhi tuntatan perubahan yang semakin cepat.


III.        PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan Islam adalah proses transformasi, internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam pada peserta didik melalui penumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya untuk mencapai keseimbangan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya. Meletakkan nilal-nilal moral pada peserta didik harus diutamakan, nilai-nilai ke-Tuhan-an harus dikedepankan. pendidikan Islam haruslah memperhatikan prinsip keseimbangan hidup yang meliputi; keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani, keseimbangan antara kepentingan individu dan sosial, keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan amal, persamaan dalam menerima pendidikan, pendidikan seumur hidup.
Pendidikan Islam sekarang ini dihadapkan pada tantangan kehidupan manusia modern. Dcngan demikian, pendidikan Islam harus diarahkan pada kebutuhan perubahan masyarakat modern. Dalam menghadapi suatu perubahan, diperlukan suatu desain paradigma baru di dalam menghadapi tuntutan-tuntutan baru yang mampu memberi solusi dan persoalan dikotomik, tujuan dan fungsi lembaga pendidikan Islam, serta persoalan kurikulum atau materi.
Pendidikan IsIam dapat dan mampu ditranspormasikan atau diproses secara sistematis dalam masyarakat. Pendidikan Islam pcrlu menghadirkan suatu konstruksi wacana pada tataran filosofis, wacana metodologis, dan juga cara menyampaikan atau mengkomunikasikannya.

B.    Implikasi
Pendidikan Islam mempunyai peluang yang sangat besar dalam menjawab berbagai persoalan pendidikan dan kemanusiaan, karena pendidikan memberi ruang yang sangat luar terhadap perkembangan dan perubahan pengetahuan dan kepribadian umat manusia.
Pendidikan Islam menyentuh aspek-aspek kemanusiaan, yakni perkembangan jasmaniah dan perkembangan ruhaniah, memberikan nutrisi terhadap perkembangan akal pikiran maupun pada persoalan kejiwaan. Keduanya merupakan hal yang subtantif tetapi di antara keduanya pada perkembangan kemodern diabaikan.


DAFTAR PUSTAKA
A. Malik Fadjar, Menyiasati Kebutuhan Masyarakat Modern Terhadap Pendidikan Agama Luar Sekolah, Seminar dan Lokakarya Pengembangan Pendidikan Islam Menyongsong Abad 21, Cirebon, IAIN, tanggal 31 Agustus s/d 1 September 1995.
Achwan, Roehan. Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam Versi Mursi, Jurnal Pendidikan Islam, Vol. I. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1991.
Al-Abra@si, M. At}iyah}. At-Tarbiyah al-Islamiya@h}, diterjemah oleh Bustamin A.Goni dan Djohar Bakry. Jakarta: Bulan Bintang, 1986.
Al-Attas, An-Naquid. Konsep Pendidikan dalam Islam. Bandung: Mizan, 1988.
Al-Qurtubi, Ibnu Abdillah Muh}ammad bin Ahmad al-Ansari. Tafsir al-Qurtubi. Kairo: Durusy, tt.
Ancok, Djamaluddin. Membangun Kompetensi Manusia dalam Milenium ke Tiga, Psikologika Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologika, nomor 6 Tahun III, UII, 1998.
An-Nahlawi, Abdurrahman. Ushulut Tarbiyah Islamiyah wa Asalabih fi Baiti wa Madrasati wal Mujtama’ diterjemahkan oleh Shihabuddin, Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyrakat. Jakarta: Gema Insani Press, 1995.
Assegaf, Abd. Rachman. Filsafat Pendidikan Islam; Paradigma Baru Pendidikan Hadhari Berbasis Integratif-Interkonegtif. Jakarta: Rajawali Press, 2011.
Azra , Azumardi dalam Marwan Saridjo, Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Amisco, 1996.
Azra, Azymuradi. Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Melenium Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998.
Daud, Wan Mohd. Nor Wan. The Concept of Knowledge in Islam and its Implication for Education in a Develoving Country. London; Mansell, 1989.
Djohar, Omong Kosong, Tanpa Mengubah UU No. 2/89, Koran Harian Kedaulatan Rakyat  tanggal  4 Mei 1999.
Husain, Syekh Sajja@d dan Syekh Ali As@raf, Crisis Muslim Education, diterjemahkan oleh Rahmani Astuti, dengan judul Krisis Pendidikan Islam. Bandung: Risalah, 1986.
Jala@@l, Abdul Fattah}. Min al-Us}uli@ al-Tarbawiyah fi  al-Isla@m. Mesir: Da@rul Kutub Misriya@h}, 1977.
Jasin, Anwar. Kerangka Dasar Pembaharuan Pendidikan Islam : Tinjauan Filosofis. Jakarta: Rineka Cipta, 1985.
Ma’arif, A. Syafi’i. dkk., Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1991.
Ma’luf, Louis. Al-Munjid fi Lugah}. Beiru@t: Da@r al-Masyri@q, 1960.
Machmud, M. Dimyati. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: BPFE, 1990.
Parker, S.R. et.al., Sosiologi Industri. Jakarta: Rineka Cipta, 1990.
Rahman, Fazlur. Islam and Modernity, Tranformation of An Intellectual Tradition diterjemah Ahsin Mohammad. Jakarta: Pustaka, 1985
Ra@@z}i, Fat}h}ur. Tafsi@r Fat}h}ur Ra@z}i. Teheran: Da@r al-kutub al-Ilmiya@h}, tt.
Rid}a, Rasyid. Tafsi@r al-Mana@r. Mesir: Da@r al-Mana@r, 1373 H.
Saputra, Arvin. Masa Depan Pendidikan. Batam: Lucky Publishers, 2003.
Soebahar, Abd. Halim. Wawasan Baru Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 2002.
Sudiro, M. Irsyad. Pendidikan Agama dalam Masyarakat Modern, Seminar dan Lokakarya Nasional Revitalisasi Pendidikan Agama Luar Sekolah dalam Masyarakat Modern, Cirebon, tanggal 30-31 Agustus 1995.
Tafsir, Ah}mad. Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam. Bandung; Remaja Rosydakarya, 1994.
Tilaar, H.A.R.  Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21. Magelang; Tera Indonesia, 1998.
Zaini, Syahminan. Prinsip-Prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 1986.
Zuhairini, Metodik Pendidikan Islam. Malang: IAIN Tarbiyah Sunan Ampel Press, 1990.




[1]Abd. Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam; Paradigma Baru Pendidikan Hadhari Berbasis Integratif-Interkonegtif (Jakarta: Rajawali Press, 2011), h. 13.
[2]Ah}mad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam (Bandung; Remaja Rosydakarya, 1994), h. 204.
[3]Wan Moh}d. Nor Wan Daud, The Concept of Knowledge in Islam and its Implication for Education in a Develoving Country (London; Mansell, 1989), h. 10.
[4]H.A.R. Tilaar,  Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21 (Magelang; Tera Indonesia, 1998), h. 245.
[5]Ibnu ‘Abdilla@h Muh}ammad bin Ah}mad al-Ansari@  al-Qurtubi@, Tafsi@r al-Qurtubi@ (Kairo: Duru@sy, tt.), h. 15.
[6]Louis Ma’luf, Al-Munjid fi Lugah} (Beirut: Da@r al-Masyriq, 1960), h. 6.
[7]Fat}h}ur Ra@z}i, Tafsir Fathur Razi (Teheran: Da@r al-Kutub al-Ilmiyah, tt.), h. 12
[8]Zuhairini, Metodik Pendidikan Islam (Malang: IAIN Tarbiyah Sunan Ampel Press, 1990), h. 17.
[9]Abdul Fattah} Jala@l, Min al-Us}uli al-Tarbawi@yah fi  al-Isla@m (Mesir: Da@rul Kutub Misriyah, 1977), h. 32.
[10]Rasyid Rid}a, Tafsi@r al-Mana@r (Mesir: Da@r al-Mana@r, 1373 H.), h. 42.
[11]An-Naquid al-Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam (Bandung: Mizan, 1988), h. 17.
[12]Ibid., h. 19.
[13]M. At}iyah} al-Abrasy, At-Tarbiyah al-Islamiyah, diterjemah oleh Bustamin A.Goni dan Djohar Bakry (Jakarta: Bulan Bintang, 1986), h. 32.
[14]Azymuradi Azra, Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Melenium Baru (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998), h. 5.
[15]Syahminan Zaini, Prinsip-Prinsip Dasar Konsepsi Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 1986), h. 107.
[16]Abd. Halim Soebahar, Wawasan Baru Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), h. 79.
[17]Syekh Sajjad H}usain dan Syekh Ali@ As}raf, Crisis Muslim Education, diterjemahkan oleh Rahmani Astuti, dengan judul Krisis Pendidikan Islam (Bandung: Risalah, 1986), h. 2.
[18]Abdurrahma@n an-Nah}lawi@, Us}ulut Tarbiyah Isla@miyah wa As}alabih} fi Bai@ti wa Madrasati@ wal Mujtama’ diterjemahkan oleh S}ih}abuddin, Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), h. 26.
[19]Roehan Achwan, Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam Versi Mursi, Jurnal Pendidikan Islam, Vol. I (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1991), h. 50.
[20]Arvin Saputra, Masa Depan Pendidikan (Batam: Lucky Publishers, 2003), h. 61.
[21]Ibid.
[22]H.A.R. Tilaar, loc.cit.
[23]M. Irsyad Sudiro, Pendidikan Agama dalam Masyarakat Modern, Seminar dan Lokakarya Nasional Revitalisasi Pendidikan Agama Luar Sekolah dalam Masyarakat Modern, Cirebon, tanggal 30-31 Agustus 1995, h. 5.
[24]Djamaluddin Ancok, Membangun Kompetensi Manusia dalam Milenium ke Tiga, Psikologika Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologika, nomor 6 Tahun III, UII, 1998, h. 5.
[25]Ibid., h. 7.
[26]A. Malik Fadjar, Menyiasati Kebutuhan Masyarakat Modern Terhadap Pendidikan Agama Luar Sekolah, Seminar dan Lokakarya Pengembangan Pendidikan Islam Menyongsong Abad 21, Cirebon, IAIN, tanggal 31 Agustus s/d 1 September 1995, h. 3.
[27]A. Malik Fadjar, op.cit., h. 4.
[28]Ibid.
[29]A. Malik Fadjar, op.cit., h. 4.
[30]Ibid.
[31]Ibid.
[32]M. Dimyati Machmud, Psikologi Pendidikan (Yogyakarta: BPFE, 1990), h. 3.
[33]Azumardi Azra dalam Marwan Saridjo, Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Amisco, 1996), h. 3.
[34]A. Syafi’I Ma’arif, dkk., Pendidikan Islam di Indonesia (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1991), h. 3. 
[35]Soroyo, Antisipasi Pendidikan Islam dan Perubahan Sosial Menjangkau Tahun 2000 dalam Muslih Usa (Ed.), Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991), h. 45.
[36]Faz}h}ur Rahma@n, Isla@m and Modernity, Tranformation of An Intellectual Tradition diterjemah Ah}sin Moh}ammad (Jakarta: Pustaka, 1985), h. 155-160. Lihat juga, Ah}mad Syafi’I Ma’arif, Pemikiran Tentang Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia dalam  Muslih Usa (Ed.), Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991), h. 150
[37]Anwar Jasin, Kerangka Dasar Pembaharuan Pendidikan Islam : Tinjauan Filosofis (Jakarta: Rineka Cipta, 1985), h. 15.
[38]A. Malik Fajar, op.cit., h. 5.
[39]M. Irsyad Sudiro, loc.cit.
[40]Djohar, Omong Kosong, Tanpa Mengubah UU No. 2/89, Koran Harian Kedaulatan Rakyat  tanggal  4 Mei 1999, h. 12.
[41]S.R. Parker, et. al., Sosiologi Industri (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), h. 15.
[42]A. Malik Fadjar, op.cit., h. 1.
[43]Djamaluddin Ancok, op.cit., h. 5.

Shahib Abdullah, Pendiri Shahibmedia, Pendidik dalam sebuah lembaga tepatnya MTs dan MA Darussalam Anrong Appaka. Baca profil Shahib selengkapnya, klik di sini...

Komentar Facebook :

Komentar dengan Akun Google :