PENDIDIKAN ISLAM
(Konsep-Konsep Islam dan Masyarakat Modern)
oleh : Muhammad Shahib A.
I. PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Upaya untuk memajukan umat dan pendidikan Islam
telah lama dilakukan oleh para ulama dan tokoh muslim periode klasik (570 -750
M) sampai sekarang. Mereka telah menyusun karya tulis dari berbagai disiplin
ilmu dan melakukan gerakan dengan mendirikan institusi sosial-keagamaan. Tempat
ibadah dan lembaga pendidikan merupakan bukti adanya upaya memajukan umat dan pendidikan
Islam.
Memudarnya masa kejayaan umat Islam yang
bersifat sistemik, kompleks dan multi-faktor oleh para analis acap kali
menisbatkan; pertama, unsur politik sebagai faktor dominan. Kedua, adanya
kekuatan eksternal yang mulai masuk ke dunia Islam. Ketiga, adanya penutupan
pintu ijtihad, kemujudan berpikir, budaya taqlid. Keempat, adanya
isu-isu sektarianisme yang mewarnai masa-masa kemunduran Islam.[1]
Kelima, adanya sikap alergi terhadap filsafat.[2]
Pendidikan merupakan proses internalisasi nilai,
sebagai upaya penanaman nilai-nilai dalam keseluruhan proses pcmbelajaran untuk
mencapai suatu tujuan tertentu, nilai-nilai yang termuat dalam Al-Quran dan h}adi@s
merupakan ciri khas pendidikan Islam. Pendidikan merupakan investasi human resources,
bahwa proses pendidikan dilakukan oleh manusia dan untuk manusia sebagai
peningkatan kualitas sumber daya manusia agar menjadi manusia yang sadar akan
fungsi hidupnya di dunia sebagai hamba Alla@h swt dan khalifah fi al-‘ard}, dan
pendidikan sebagai sarana memajukan peradaban.
Praktik pendidikan Islam selalu mengalami
dinamika dan pasang surut. Masa sekarang memuat pengaruh unsur-unsur masa
lampau termasuk di dalammya adalah masa depan, unsur-unsur saat ini
mempengaruhi perjalanan arah masa depan.[3]
Sehingga peradaban senantiasa mengalami masa pertumbuhan (rise), puncak
kejayaan (peak), dan kemunduran (decline).
Perubahan pendidikan harus relevan dengan
perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat pada era tersebut, baik pada konsep,
materi dan kurikulum, proses maupun fungsi serta tujuan lembaga-lembaga pendidikan.
Pendidikan Islam sekarang ini dihadapkan pada tantangan kehidupan manusia
modern. Menurut Kuhn yang dikutip oleh H.A.R. Tilaar, apabila tantangan-tantangan
baru tersebut dihadapi dengan menggunakan paradigma lama, maka segala usaha
yang dijalankan akan menemui kegagalan.[4]
Untuk itu, pendidikan Islam perlu didesain untuk menjawab tantangan perubahan
zaman, baik pada sisi konsep maupun kurikulum, kualitas sumber daya manusia
(SDM), lembaga-lembaga dan organisasinya, maupun melakukan konstruksi agar dapat
relevan dengan perubahan masyarakat.
B.
Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka
penulis mengemukakan permasalahan pokok yaitu bagaimana konsep-konsep Islam dan
masyarakat Modern dalam perspektif pendidikan Islam ?. Sebagai sub permasalahan
adalah:
1.
Bagaimana pendidikan menurut konsep Islam ?
2.
Bagaimana konsep pendidikan Islam dan masyarakat
modern ?
3.
Bagaimana desain pendidikan Islam ?
II.
PEMBAHASAN
A. Konsep-Konsep
Pendidikan Islam
Pendidikan dalam pendidikan Islam dikenal dengan
istilah al-tarbiyah, al-ta’lim, dan al-ta’d}ib.
Para ahli memberikan definisi al-tarbiyah, sebagai
berikut; Pertama, Menurut al-Qurtubi@, bahwa arti ar-rab adalah
pemilik, tuan, maha memperbaiki, yang maha pengatur, yang maha mengubah, dan
yang maha menunaikan.[5]
Kedua, Menurut Louis al-Ma’luf, ar-rab berarti tuan, pemilik,
memperbaiki, perawatan, tambah dan rnengumpulkan.[6]
Ketiga, Menurut Fat}h}ur Ra@z}i, ar-rab merupakan fonem yang
seakar dengan al-tarbiyah, yang mempunyai arti at-Tanwiya@h yang
berarti (pertumbuhan dan perkembangan).[7]
Keempat, al-Jauhari dalam al-Abra@sy
memberi arti kata at-tarbiyah dengan rabban dan rabba dengan
memberi makan, mernelihara dan mengasuh.[8]
Tarbi@yah mempunyai arti yang luas antara lain; memiliki, menguasai,
mengatur, memelihara, memberi makan, menumbuhkan, mengembangkan dan berarti pula
mendidik.
Pendidikan Islam diidentikkan dengan at-ta’li@m,
para ahli memberikan pengertian sebagai berikut; Pertama, Abdul Fattah}
Jalal, mendefinisikan al-ta’li@m sebagai proses pemberian pengetahuan,
pemahaman, pengertian, tanggung jawab, dan penanaman amanah. At-ta’li@m menyangkut
aspek pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan seseorang dalam hidup serta
pedoman perilaku yang baik.
At-ta’li@m merupakan proses yang terus menerus diusahakan
semenjak dilahirkan, sebab manusia dilahirkan tidak rnengetahui sesuatu apapun,
tetapi ia dibekali dengan berbagai potensi yang mempersiapkan dirinya untuk
meraih dan memahami ilmu pengetahuan serta memanfaatkanya dalam kehidupan.[9]
Kedua, Rasyid Rid}a mengemukakan at-ta’li@m adalah
proses transimisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan
dan ketentuan tertentu Definisi ini berpijak pada firman Alla@h swt dalam QS. Al-Baqarah/2
:31;
zN¯=tæur tPy#uä uä!$oÿôF{$# $yg¯=ä. §NèO öNåkyÎztä n?tã Ïps3Í´¯»n=yJø9$# tA$s)sù ÎTqä«Î6/Rr& Ïä!$yJór'Î/ ÏäIwàs¯»yd bÎ) öNçFZä. tûüÏ%Ï»|¹ ÇÌÊÈ
Terjemahnya
:
Dan dia
mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya
kepada para malaikat lalu berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu
jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!.
Pengertian at-ta’li@m lebih luas atau
lebih umum sifatnya daripada istilah at-tarbiyah yang khusus berlaku
pada anak-anak. Hal ini karena at-ta’li@m mencakup fase bayi, anak-anak,
remaja, dan orang dewasa, sedangkan at-tarbiyah oleh Rasyid Rid}a,
menguaraikan bahwa at-tarbiyah khusus pendidikan dan pengajaran pada
fase bayi dan anak-anak.[10]
Ketiga, Sekh Muh}ammad an-Naquid al-Attas, mengartikan at-ta’li@m
disinonimkan dengan pengajaran tanpa adanya pengenalan secara mendasar,
namun bila at-ta’li@m disinonimkan dengan at-tarbiyah, at-ta’li@m
mempunyai arti pengenalan tempat segala sesuatu dalam sebuah sistem.[11]
Menurutnya ada hal yang rnembedakan antara at-tarbiyah dengan at-ta’li@m
yaitu pada ruang lingkupnya. At-ta’li@m lebih umum daripada at-tarbiyah,
karena at-tarbiyah tidak mencakup segi pengetahuan dan hanya mengacu
pada kondisi eksistensial dan juga at-tarbiyah merupakan terjemahan dari
bahasa latin education, yang keduanya mengacu kepada segala sesuatu yang
bersifat fisik-mental, tetapi sumbernya bukan dari wahyu.
Keempat, Pengunaan at-ta’d}ib, menurut Naquib
al-Atta@s lebih cocok untuk digunakan dalarn pendidikan Islam, menurutnya konsep
inilah yang diajarkan oleh Rasul. At-ta’d}ib berarti pengenalan,
pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat
yang tepat dan segala sesuatu dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga
membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan dalam
tatanan wujud dan keberadaanya.[12]
Kelima, Menutut Muh}ammad At}iyah} al-Abra@sy,
pengertian at-ta’li@m berbeda dengan pendapat di atas, ia mengatakan
bahwa; at-ta’li@m lebih khusus dibandingkan dengan at-tarbiyah, karena
at-ta’li@m hanya merupakan upaya menyiapkan individu dcngan mengacu pada
aspek-aspek tertentu saja, sedangkan at-tarbiyah mencakup keseluruhan
aspek-aspek pendidikan.[13]
Pendidikan Islam adalah proses transformasi dan
internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam pada peserta didik
melalui penumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya untuk mencapai keseimbangan
dan kesempurnaan hidup dalarn segala aspeknya.[14]
Proses
tranformasi dan internalisasi, merupakan upaya yang harus dilakukan secara
berangsur-angsur, berjenjang dan istiqa@mah}, penanaman nilai/ilmu,
pengarahan, pengajaran dan pembimbingan kepada peserta didik dilakukan secara
terencana, sistematis dan terstuktur dengan menggunakan pola, pendekatan dan
metode/sistem tertentu.
Kecintaan kepada Ilmu pengetahuan, yaitu upaya
yang diarahkan pada pemberian dan pengahayatan, pengamalan ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan yang berciri khas Islam, dengan
disandarkan kepada peran dia sebagai khalifah fil ard}i dengan pola
hubungan dengan Alla@h (h}ablun min Alla@h), sesama manusia (h}ablun
minanna@s) dan hubungan dengan alam sekitas (h}ablun min al-‘alam).
Pendidikan Islam memuat nilai insani@ah dan
ilah}iyah. Agama Islam adalah sumber akhlak, kedudukan akhlak sangatlah
penting sebagai pelengkap dalam menjalankan fungsi kemanusiaan di bumi.
Pendidikan merupakan proses pembinaan akhlak pada jiwa. Meletakkan nilai-nilai
moral pada peserta didik harus diutamakan.[15]
Nilai-nilai ketuhanan harus dikedepankan, pendidikan Islam haruslah
memperhatikan pendidikan akhlak atau nilai dalam setiap pelajaran dan tingkat
dasar sampai tingkat tertinggi dan mengutamakan fad}ilah dan sendi moral
yang sempurna.
Prinsip keseimbangan hidup dalam pendidikan
Islam meliputi;
a.
Keseimbangan antara kehidupan dunia dan
akhirat.
b.
Keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani.
c.
Keseimbangan antara kepentingan individu
dan sosial.
d.
Keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan amal
e.
Persamaan dalam menerima pendidikan
f.
Pendidikan seumur hidup.[16]
Problema pendidikan Islam adalah problema
sistemik pendidikan. Artinya, permasalahan menyangkut keseluruhan komponen
pendidikan, mulai dari pemerintah sebagai pengambil kebijakan sistem pendidikan
nasional, manajerial pemerintah, kompetensi guru/dosen, sarana-prasarana, kurikulum,
dukungan masyarakat dan lain sebagainya.
B. Pendidikan Islam dan Masyarakat Modern
Pendidikan Islam, suatu pendidikan yang melatih
perasaan peserta didik dengan cara begitu rupa sehingga dalam sikap hidup, tindakan,
keputusan, dan pendekatan mereka terhadap segala jenis pengetahuan dipengaruhi
oleh nilai-nilai spritual dan sangat sadar akan nilai etis keislaman,[17]
atau pendidikan Islam mengantarkan
rnanusia pada perilaku dan perbuatan manusia yang berpedoman pada syariat Alla@h
swt.[18]
Pendidikan Islam tidaklah sekedar transfer of knowledge ataupun transfer
of training, tetapi lebih merupakan suatu sistem yang ditata di atas
pondasi keimanan dan kesalehan, yakni suatu sistem yang terkait secara langsung
dengan Tuhan.[19] Pendidikan Islam merupakan suatu kegiatan yang
mengarahkan dengan sengaja perkembangan seseorang sesuai atau sejalan dengan
nilai-nilai Islam.
Pendidikan merupakan sistem untuk meningkatkan
kualitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan. Sejarah umat manusia,
pendidikan digunakan sebagai alat pembudayaan dan peningkatan kualitas.
Pendidikan dibutuhkan untuk menyiapkan anak manusia demi menunjang perannya di
masa datang. Upaya pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa memiliki hubungan
yang signifikan dengan rekayasa bangsa tersebut di masa mendatang. Dengan
demikian, pendidikan merupakan sarana terbaik untuk menciptakan suatu generasi
baru yang tidak akan kehilangan ikatan dengan tradisi mereka tapi juga
sekaligus tidak menjadi tertinggal secara intelektual atau terbelakang dalam
pendidikan mereka atau tidak menyadari adanya perkembangan disetiap cabang
pengetahuan manusia.
Pendidikan
merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia yang
berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan selalu berkembang, dan selalu dihadapkan
pada perubahan zaman.[20]
Oleh karena itu pendidikan harus di desain mengikuti irama perubahan tersebut,
apabila pendidikan tidak di desain mengikuti irama perubahan maka pendidikan
akan ketinggalan dengan lajunya perkembangan zaman itu sendiri.
Siklus perubahan pendidikan pada di atas, dapat
dijelaskan sebagai berikut; Pendidikan dari masyarakat, didesain mengikuti
irama perubahan dan kebutuhan masyarakat. Misalnya, pada peradaban masyarakat
agraris, pendidikan di desain relevan dengan irama perkembangan peradaban masyarakat
agraris dan kebutuhan masyarakat pada era tersebut. Begitu juga pada peradaban
masyarakat industrial dan informasi, pendidikan didesain mengikuti irama perubahan
dan kebutuhan masyarakat pada era industri dan informasi.[21]
Demikian siklus perkembangan perubahan pendidikan. Kalau tidak, pendidikan akan
ketinggalan dari perubahan zaman yang begitu cepat. Untuk itu, perubahan
pendidikan harus relevan dengan perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat pada
era tersebut, baik pada konsep, materi dan kurikulum, proses, fungsi serta
tujuan lembaga-lembaga pendidikan.
Pendidikan Islam sekarang ini dihadapkan pada
tantangan kehidupan manusia modern. Dengan demikian, pcndidikan Islam harus
diarahkan pada kebutuhan perubahan masyarakat modern. Dalam rnenghadapi suatu
perubahan, diperlukan suatu desain paradigma baru di dalam menghadapi
tuntutan-tuntutan yang baru, demikian dikatakan oleh filusuf Kuhn. Menurutnya, apabila tantangan-tantangan
baru tersebut dihadapi dengan menggunakan paradigma lama, maka segala usaha
yang dijalankan akan rnemenuhi kegagalan.[22]
Oleh karena itu, pendidikan Islam perlu didesain untuk menjawab tantangan
perubahan zaman tersebut, baik pada sisi konsepnya, kurikulum, kualitas sumber
daya insan, lembaga-lembaga dan organisasinya, serta mengkonstruksinya agar
dapat relevan dengan perubahan masyarakat tersebut.
Pendapat Alvin Tofler dalam H.A.R. Tilaar, mengemukakan
tentang peradaban manusia, yaitu; (1) peradaban yang dibawa oleh penemuan
pertanian, (2) peradaban yang diciptakan dan dikembangkan oleh revolusi industri,
dan (3) peradaban baru yang tengah digerakkan oleh revolusi kornunikasi dan
informasi. Perubahan terbesar yang diakibatkan oleh gelombang ketiga adalah,
terjadinya pergeseran yang mendasar dalarn sikap dan tingkah laku rnasyarakat.[23]
Salah satu ciri utama kehidupan di masa sekarang
dan masa yang akan datang adalah cepatnya terjadi perubahan yang terjadi dalam
kehidupan manusia. Banyak paradigma yang digunakan untuk menata kehidupan, baik
kehidupan individual maupun kehidupan organisasi yang pada waktu yang lalu sudah
mapan, kini menjadi ketinggalan zaman.[24]
Secara umum masyakarat modern adalah masyarakat yang pro-aktif, individual dan
kompetitif.
Masyarakat modern dewasa ini yang ditandai
dengan munculnya pasca industri (postindustrial society), seperti dikatakan
Daniel Bell, masyarakat informasi (information society) sebagai tahapan
ketiga dan perkembangan peradaban, tak pelak lagi telah menjadikan kehidupan
manusia secara teknologis rnemperoleh banyak kemudahan. Tetapi juga masyarakat
modern menjumpai banyak paradoks dalam kehidupannya.[25]
Revolusi informasi, semakin banyak informasi
dan semakin banyak pengetahuan mestinya makin besar kemampuan melakukan pengendalian
umum. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, semakin banyak informasi telah menghadirkan
kesadaran bahwa segala sesuatunya tidak terkendali. Karena itu, Ziauddin
Sardar, menyatakan bahwa abad informasi ternyata sama sekali bukan rahmat. Di
masyarakat Barat, ia telah menimbulkan banyak persoalan besar, yang tidak ada
pemecahannya kecuali cara pemecahan yang tumpul. Di lingkungan masyarakat
sendiri, misalnya telah terjadi swastanisasi televisi, masyarakat rnulai
merasakan ekses negatifnya.[26]
Perkembangan peradaban modern yang semakin kehilangan
jangkar spritual dengan segala dampak destruktifnya pada berbagai dimensi
kehidupan manusia. Teknologi tanpa kendali moral lebih merupakan
ancaman. Ancaman terhadap kehidupan sekarang, bukanlah ancaman terhadap satu
kelas, satu bangsa, tetapi merupakan ancaman terhadap semua.[27]
Sistem pendidikan tinggi modern yang kini
berkembang di seluruh dunia lebih merupakan pabrik doktor yang kemudian menjadi
tukang-tukang tingkat tinggi, bukan melahirkan homo sapiens.[28]
Bangsa-bangsa Muslim pun terjebak dan terpasung dalam arus sekuler dalam penyelenggaraan
pendidikan tingginya. Belum mampunya menampilkan corak pendidikan alternatif
terhadap arus besar high learning yang dominan dalam peradaban sekuler
sekarang ini.
Dampak dari semua kemajuan masyarakat modern,
kini dirasakan demikian fundamental. Ini dapat ditemui dari beberapa konsep
yang diajukan oleh kalangan agamawan, ahli filsafat dan ilmuan sosial untuk
menjelaskan persoalan yang dialami oleh rnasyarakat. Misalnya, konsep
keterasingan (alienation) dari Marx dan Erich Fromm, dan konsep anomie
dan Durkheim. Baik alienation maupun anomie mengacu kepada
suatu keadaan manusia secara personal sudah kehilangan keseimbangan diri dan
ketidakberdayaan eksistensial akibat dari benturan struktural yang diciptakan
sendiri. Dalam keadaan seperti ini, manusia tidak lagi merasakan dirinya
sebagai pembawa aktif dari kekuatan dan kekayaannya, tetapi sebagai benda yang
dimiskinkan, tergantung kepada kekuatan di luar dirinya, kepada siapa ia telah
memproyeksikan substansi hayati dirinya.[29]
Semua persoalan fundamental yang dihadapi oleh
masyarakat modern yang digambarkan di atas, menjadi pemicu munculnya kesadaran
epistimologi baru bahwa persoalan kemanusian tidak cukup diselesaikan dengan
cara empirik rasional, tetapi perlu jawaban yang bersifat transendental.[30]
Melihat persoalan ini, ada peluang bagi pendidikan Islam yang memiliki
kandungan spritual keagamaan untuk menjawab tantangan perubahan tersebut.
Fritjop Capra dalam buku The Turning Point dalam
A. Malik Fadjar, mengajak untuk meninggalkan paradigma keilmuan yang terlalu materialistik
yang mengenyampingkan aspek spritual keagamaan.[31]
Demikianlah, agama pada akhirnya dipandang scbagai alternatif paradigma yang
dapat memberikan solusi secara mendasar terhadap persoalan kemanusian yang
sedang dihadapi oleh masyarakat modern.
Mencermati fenomena peradaban modern yang
dikemukakan di atas, harus disikapi secara arif dalam merespons
fenornena-fenomena tersebut. Dalarn arti, jangan melihat peradaban
modern dan sisi unsur negatifnya saja, tetapi perlu juga merespons unsur-unsur
positifnya yang banyak memberikan manfaat dan mempengaruhi kehidupan manusia.
Produk peradaban modern jangan sampai
memperbudak manusia atau manusia menghambakan produk tersebut, tetapi manusia
harus menjadi tuan, mengatur, dan memanfaatkan produk perabadaban modern
tersebut secara maksimal.
Konsep pendidikan modern, yaitu pendidikan yang menyentuh setiap aspek
kehidupan peserta didik, pendidikan merupakan proses belajar yang terus
menerus, pendidikan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi dan pengalaman, baik di
dalam maupun di luar situasi sekolah, pendidikan dipersyaratkan oleh kemampuan
dan minat peserta didik, juga tepat tidaknya situasi belajar dan efektif
tidaknya cara mengajar.[32]
Pendidikan pada masyarakat modern atau masyarakat yang tengah bergerak ke arah
modern (modernizing), seperti masyarakat Indonesia, pada dasarnya
berfungsi memberikan kaitan antara peserta didik dengan lingkungan sosial kulturnya
yang terus berubah dengan cepat.
Azyumardi Azra, mengemukakan bahwa fungsi pokok
pendidikan dalam masyarakat modern yang tengah terbangun terdiri dan tiga
bagian: (1) sosialisasi, (2) pembelajaran (schooling), dan (3) pendidikan
(education). [33]
Pertama, sebagai lembaga sosialisasi, pendidikan adalah wahana bagi
integrasi peserta didik ke dalam nilai-nilai kelompok atau nasional yang dominan.
Kedua, pembelajaran (schooling) mempersiapkan mereka untuk
mencapai dan menduduki posisi sosial-ekonomi tertentu dan pembelajaran harus
dapat membekali peserta didik dengan kualifikasi-kualifikasi pekerjaan dan
profesi yang akan membuat mereka mampu memainkan peran sosial-ekonomis dalam
masyarakat. Ketiga, pendidikan merupakan education untuk
menciptakan kelompok elit yang pada gilirannya akan memberikan sumbangan besar
bagi kelanjutan program pembangunan.
C.
Desain Pendidikan Islam
Perubahan yang terjadi dalam kehidupan
masyarakat baik sosial maupun kultural, secara makro persoalan yang dihadapi pendidikan
Islam adalah bagaimana pendidikan Islam mampu rnenghadirkan desain atau
konstruksi wacana pendidikan Islam yang relevan dengan perubahan masyarakat.
Kemudian desain wacana pendidikan Islam tersebut dapat dan mampu ditranspormasikan
atau diproses secara sistematis dalam masyarakat. Pendidikan Islam perlu
menghadirkan suatu konstruksi wacana pada tataran filosofis, wacana
metodologis, dan juga cara menyampaikan atau mengkomunikasikannya.
Dalam menghadapi peradaban modern, yang perlu
diselesaikan adalah persoalan-persoalan umum internal pendidikan Islam yaitu;
(1) persoalan dikotomik, (2) tujuan dan fungsi lembaga pendidikan Islam, (3)
persoalan kurikulum atau materi.[34]
Ketiga persoalan ini saling interdependensi antara satu dengan lainnya.
Pertama, Persoalan dikotomik pcndidikan Islam, yang
merupakan persoalan lama yang belum terselesaikan sampai sekarang. Pendidikan
Islam harus menuju pada integritas antara ilmu agama dan ilmu umum untuk tidak
melahirkan jurang pemisah antara ilmu agama dan ilmu bukan agama. Pandangan
seorang muslim, ilmu pengetahuan adalak satu yaitu yang berasal dan Alla@h swt.[35]
Mengenai persoalan dikotomi, Faz}h}ur Rahma@n, mengemukakan
salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah dengan menerima pendidikan
sekuler modern sebagaimana telah berkembang secara umumnya di dunia Barat dan
mencoba untuk mengislamkannya, yakni mengisinya dengan konsep-konsep kunci
tertentu dan Islam. Persoalannya adalah bagaimana melakukan modernisasi
pendidikan Islam, yakni membuatnya mampu untuk produktivitas intelektuai Islam
yang kreatif dalam semua bidang usaha intelektual bersama-sama dengan keterkaitan
yang serius kepada Islam,[36]
mengatakan bila konsep dualisme dikotomik
berhasil ditumbangkan, dalam jangka panjang sistem pendidikan Islam juga
akan berubah secara keseluruhan, mulai dan tingkat dasar sampai ke perguruan
tinggi.
Kedua, perlu pemikiran kembali tentang tujuan dan
fungsi lembaga-lembaga pendidikan Islam yang ada.[37]
Memang diakui bahwa penyesuaian lembaga-lembaga pendidikan akhir-akhir ini
cukup menggembirakan. Artinya, lembaga-lembaga pendidikan memenuhi keinginan
untuk menjadikan lembaga-lembaga tersebut sebagai tempat untuk mempelajari ilmu
umum dan ilmu agama serta keterampilan. Tetapi pada kenyataannya penyesuaian
tersebut lebih merupakan peniruan dengan pola tambal sulam atau dengan kata
lain mengadopsi model yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan umum. Artinya,
ada perasaan harga diri bahwa apa yang bisa dilakukan oleh lembaga-lembaga
pendidikan umum dapat juga dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan agama.
Beban kurikulum yang terlalu banyak, cukup
berat dan terjadi tumpang tindih. Sebenarnya lembaga-lembaga pendidikan Islam
harus memilih satu di antara dua fungsi, apakah mendesain model pendidikan umum
Islami yang handal dan mampu bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan yang
lain, atau mengkhususkan pada desain pendidikan keagamaan yang berkualitas,
mampu bersaing, dan mampu mempersiapkan mujtahid-mujtahid yang berkualitas.
Ketiga, persoalan kurikulum atau materi Pendidikan Islam,
meteri pendidikan Islam terlalu didominasi masalah-masalah yang bersifat
normatif, ritual dan eskatologis. Materi disampaikan dengan semangat ortodoksi
kegamaan, suatu cara di mana peserta didik dipaksa tunduk pada suatu metanarasi
yang ada, tanpa diberi peluang untuk melakukan telaah secara kritis. Pendidikan
Islam yang tidak fungsional dalam kehidupan sehari-hari, kecuali hanya sedikit
aktivitas verbal dan formal untuk menghabiskan materi atau kurikulum yang telah
diprogramkan dengan batas waktu yang telah ditentukan.[38]
Mencermati persoalan yang dikemukakan di atas,
perlu menyelesaikan persoalan internal yang dihadapi pendidikan Islam secara
mendasar dan tuntas. Sebab, pendidikan sekarang ini juga dihadapkan pada
persoalan-persoalan yang cukup kompleks, yakni bagaimana pendidikan mampu
mempersiapkan manusia yang berkualitas, bermoral tinggi dalam menghadapi
perubahan masyarakat yang begitu cepat, sehingga produk pendidikan Islam tidak
hanya melayani dunia modern, tetapi mempunyai pasar baru dan mampu bersaing
secara kompetetif serta pro-aktif dalam dunia masyarakat modern.
Desain pendidikan Islami yang mampu menjawab tantangan
perubahan ini, antara lain:
Pertama, lembaga-lembaga pendidikan Islam perlu mendesain
ulang fungsi pendidikannya, dengan memilih apakah (1) model pendidikan yang
mengkhususkan diri pada pendidikan keagamaan saja untuk mempersiapkan dan
melahirkan ulama-ulama dan mujtah}id-mujtah}id tangguh dalam bidangnya
dan mampu menjawab persoalan-persoalan aktual atau kontemporer sesuai dengan
perubahan zaman, (2) model pendidikan umum Islami, kurikulumnya integratif
antara materi-materi pendidikan umum dan agama untuk mempersiapkan intelektual
Islam yang berfikir secara komprehensif, (3) model pendidikan sekuler modern
dan mengisinya dengan konsep-konsep Islam, (4) atau menolak produk pendidikan
barat, berarti harus mendesain model pendidikan yang betul-betul sesuai dengan
konsep dasar Islam dan sesuai dengan lingkungan sosial-budaya, (5) pendidikan
agama tidak dilaksanakan di sekolah-sekolah tetapi dilaksanakan di luar sekolah.
Artinya, pendidikan agama dilaksanakan di rumah atau lingkungan keluarga dan lingkungan
masyarakat berupa kursur-kursus, dan sebagainya.
Kedua, desain pendidikan harus diarahkan pada dua
dimensi, yakni; (1) dimensi dialektika (horisontal), pendidikan hendaknya dapat
mengembangkan pemahaman tentang kehidupan manusia dalam hubungannya dengan alam
atau lingkungan sosialnya. Manusia harus mampu mengatasi tantangan dan kendala
dunia sekitamya melalui pengembangan iptek, dan (2) dimensi ketundukan
vertikal, pendidikan selain menjadi alat untuk memantapkan, memelihara sumber daya
alami, juga menjembatani dalam memahami fenomena dan misteri kehidupan yang
abadi dengan maha pencipta, berarti pendidikan harus disertai dengan pendekatan
hati.[39]
Ketiga, sepuluh paradigma yang ditawarkan oleh Djohar,
dapat digunakan untuk membangun paradigma baru pendidikan Islam, sebagai
berikut : 1) pendidikan adalah proses pembebasan. 2) pendidikan sebagai proses
pencerdasan. 3) pendidikan menjunjung tinggi hak-hak anak. 4) pendidikan
menghasilkan tindakan perdamaian. 5) pendidikan adalah proses pemberdayaan
potensi manusia. 6) pendidikan menjadikan peserta didik berwawasan integratif.
7) pendidikan wahana membangun watak persatuan. 8) pendidikan menghasilkan manusia
demokratik. 9) pendidikan menghasilkan manusia yang peduli terhadap lingkungan.
10) sekolah bukan satu-satunya instrumen pendidikan.[40]
Tiga hal yang dikemukakan di atas merupakan
tawaran desain pendidikan Islam yang perlu diupayakan untuk membangun paradigma
pendidikan Islam dalam menghadapi perkembangan perubahan zaman modern
dan memasuki era milenium ketiga. Kecenderungan perkembangan semacam dalam
mengantisipasi perubahan zaman merupakan hal yang wajar-wajar saja. Sebab
kondisi masyarakat sekarang ini lebih bersifat praktis-pragmatis dalam hal
aspirasi dan harapan terhadap pendidikan,[41]
sehingga tidak statis atau hanya berjalan di tempat dalam menatap
persoalan-persoalan yang dihadapi pada era masyarakat modern dan post masyarakat
modern. Untuk itu, Pendidikan dalam masyarakat modern pada dasarnya berfungsi
untuk memberikan kaitan antara peserta didik dengan lingkungan sosio-kulturalnya
yang terus berubah dengan cepat, dan pada saat yang sama, pendidikan secara
sadar juga digunakan sebagai instrumen untuk perubahan dalarn sistem politik,
ekonomi secara keseluruhan.
Pendidikan sekarang ini seperti dikatakan oleh
Ace Suryadi dan H.A.R. Tilaar dalam Malik Fadjar, tidak lagi dipandang sebagai
bentuk perubahan kebutuhan yang bersifat konsumtif dalam pengertian pemuasan
secara langsung atas kebutuhan dan keinginan yang bersifat sementara. Tetapi,
merupakan suatu bentuk investasi sumber daya manusia (human investment) yang
merupakan tujuan utarna; pertama, pendidikan dapat membantu meningkatkan
keterampilan dan pengetahuan untuk bekerja lebih produktif sehingga dapat
meningkatkan penghasilan kerja lulusan pendidikan di masa mendatang. Kedua; pendidikan
diharapkan memberikan pengaruh terhadap pemerataan kesempatan memperoleh
pendidikan (equality of education opportuniry).[42]
Selain itu, tampaknya pendidikan Islam harus
menyiapkan sumber daya manusia dan lebih handal yang merniliki kompotensi untuk
hidup bersama dalam era global. Menurut Djamaluddin Ancok, salah satu
pergeseran paradigma adalah paradigma di dalam melihat apakah kondisi kehidupan
di masa depan relatif stabil dan bisa diramaikan (predictability).[43]
Pada milenium kedua orang selalu berpikir bahwa segala sesuatu bersifat
stabil dan bisa diprediksi. Tetapi, pada milenium ketiga semakin sulit untuk
melihat adanya stabilitas tersebut. Apa yang terjadi di depan semakm sulit
untuk diprediksi karena perubahan menjadi tidak terpolakan dan tidak
lagi bersifat linier.
Pendidikan Islam sekarang ini didesain tidak
lagi bersifat linier tetapi harus didesain bersifat lateral dalam menghadapi
perubahan zaman yang begilu cepat dan tidak terpolakan. Untuk itu, lebih lanjut
Djamaluddin Ancok yang mengutip Hartanto, mengatakan bahwa pendidikan, termasuk
pendidikan Islam harus mempersiapkan ada empat kapital yang diperlukan untuk
mernasuki milenium ketiga, yakni kapital intelektual, kapital sosial, kapital
lembut, dan kapital spritual.
Tantangan ini tidak mudah untuk
penyelesaiannya, tidak seperti rnembalikkan telapak tangan. Untuk itu, pendidikan Islam sangat perlu mengadakan
perubahan atau mendesain ulang konsep, kurikulum dan materi, fungsi dan tujuan
lembaga-lembaga, proses, agar dapat memenuhi tuntatan perubahan yang semakin
cepat.
III.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan Islam adalah proses transformasi,
internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam pada peserta didik melalui
penumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya untuk mencapai keseimbangan dan kesempurnaan
hidup dalam segala aspeknya. Meletakkan nilal-nilal moral pada peserta didik
harus diutamakan, nilai-nilai ke-Tuhan-an harus dikedepankan. pendidikan Islam
haruslah memperhatikan prinsip keseimbangan hidup yang meliputi; keseimbangan
antara kehidupan dunia dan akhirat, keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan
rohani, keseimbangan antara kepentingan individu dan sosial, keseimbangan
antara ilmu pengetahuan dan amal, persamaan dalam menerima pendidikan,
pendidikan seumur hidup.
Pendidikan Islam sekarang ini dihadapkan
pada tantangan kehidupan manusia modern. Dcngan demikian, pendidikan Islam harus
diarahkan pada kebutuhan perubahan masyarakat modern. Dalam menghadapi suatu perubahan,
diperlukan suatu desain paradigma baru di dalam menghadapi tuntutan-tuntutan
baru yang mampu memberi solusi dan persoalan dikotomik, tujuan dan fungsi
lembaga pendidikan Islam, serta persoalan kurikulum atau materi.
Pendidikan IsIam dapat dan mampu ditranspormasikan
atau diproses secara sistematis dalam masyarakat. Pendidikan Islam pcrlu
menghadirkan suatu konstruksi wacana pada tataran filosofis, wacana metodologis,
dan juga cara menyampaikan atau mengkomunikasikannya.
B.
Implikasi
Pendidikan Islam mempunyai
peluang yang sangat besar dalam menjawab berbagai persoalan pendidikan dan
kemanusiaan, karena pendidikan memberi ruang yang sangat luar terhadap
perkembangan dan perubahan pengetahuan dan kepribadian umat manusia.
Pendidikan Islam menyentuh
aspek-aspek kemanusiaan, yakni perkembangan jasmaniah dan perkembangan
ruhaniah, memberikan nutrisi terhadap perkembangan akal pikiran maupun pada
persoalan kejiwaan. Keduanya merupakan hal yang subtantif tetapi di antara
keduanya pada perkembangan kemodern diabaikan.
DAFTAR PUSTAKA
A. Malik Fadjar, Menyiasati Kebutuhan Masyarakat Modern Terhadap
Pendidikan Agama Luar Sekolah, Seminar dan Lokakarya Pengembangan
Pendidikan Islam Menyongsong Abad 21, Cirebon, IAIN, tanggal 31 Agustus s/d 1
September 1995.
Achwan, Roehan. Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam Versi Mursi, Jurnal
Pendidikan Islam, Vol. I. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1991.
Al-Abra@si, M. At}iyah}. At-Tarbiyah al-Islamiya@h}, diterjemah
oleh Bustamin A.Goni dan Djohar Bakry. Jakarta: Bulan Bintang, 1986.
Al-Attas, An-Naquid. Konsep Pendidikan dalam Islam. Bandung:
Mizan, 1988.
Al-Qurtubi, Ibnu Abdillah Muh}ammad bin Ahmad al-Ansari. Tafsir
al-Qurtubi. Kairo: Durusy, tt.
Ancok, Djamaluddin. Membangun Kompetensi Manusia dalam Milenium
ke Tiga, Psikologika Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologika, nomor 6
Tahun III, UII, 1998.
An-Nahlawi, Abdurrahman. Ushulut Tarbiyah Islamiyah wa Asalabih
fi Baiti wa Madrasati wal Mujtama’ diterjemahkan oleh Shihabuddin, Pendidikan
Islam di Rumah Sekolah dan Masyrakat. Jakarta: Gema Insani Press, 1995.
Assegaf, Abd. Rachman. Filsafat Pendidikan Islam; Paradigma Baru
Pendidikan Hadhari Berbasis Integratif-Interkonegtif. Jakarta: Rajawali
Press, 2011.
Azra , Azumardi dalam Marwan Saridjo, Bunga Rampai Pendidikan
Agama Islam. Jakarta: Amisco, 1996.
Azra, Azymuradi. Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi
Menuju Melenium Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998.
Daud, Wan Mohd. Nor Wan. The Concept of Knowledge in Islam and
its Implication for Education in a Develoving Country. London; Mansell,
1989.
Djohar, Omong Kosong, Tanpa Mengubah UU No. 2/89, Koran Harian Kedaulatan
Rakyat tanggal 4 Mei 1999.
Husain, Syekh Sajja@d dan Syekh Ali As@raf, Crisis Muslim
Education, diterjemahkan oleh Rahmani Astuti, dengan judul Krisis
Pendidikan Islam. Bandung: Risalah, 1986.
Jala@@l, Abdul Fattah}. Min al-Us}uli@ al-Tarbawiyah fi al-Isla@m. Mesir: Da@rul Kutub Misriya@h},
1977.
Jasin, Anwar. Kerangka Dasar Pembaharuan Pendidikan Islam :
Tinjauan Filosofis. Jakarta: Rineka Cipta, 1985.
Ma’arif, A. Syafi’i. dkk., Pendidikan Islam di
Indonesia Antara
Cita dan Fakta.
Yogyakarta:
Tiara Wacana Yogya, 1991.
Ma’luf, Louis. Al-Munjid fi Lugah}. Beiru@t: Da@r al-Masyri@q,
1960.
Machmud, M. Dimyati. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: BPFE,
1990.
Parker, S.R. et.al., Sosiologi Industri. Jakarta: Rineka
Cipta, 1990.
Rahman, Fazlur. Islam and Modernity, Tranformation of An
Intellectual Tradition diterjemah Ahsin Mohammad. Jakarta: Pustaka, 1985
Ra@@z}i, Fat}h}ur. Tafsi@r Fat}h}ur Ra@z}i. Teheran: Da@r
al-kutub al-Ilmiya@h}, tt.
Rid}a, Rasyid. Tafsi@r al-Mana@r. Mesir: Da@r al-Mana@r,
1373 H.
Saputra, Arvin. Masa Depan Pendidikan. Batam:
Lucky Publishers, 2003.
Soebahar, Abd. Halim. Wawasan Baru Pendidikan
Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 2002.
Sudiro, M. Irsyad. Pendidikan Agama dalam Masyarakat Modern,
Seminar dan Lokakarya Nasional Revitalisasi Pendidikan Agama Luar Sekolah dalam
Masyarakat Modern, Cirebon, tanggal 30-31 Agustus 1995.
Tafsir, Ah}mad. Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam.
Bandung; Remaja Rosydakarya, 1994.
Tilaar, H.A.R. Beberapa
Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21. Magelang;
Tera Indonesia, 1998.
Zaini, Syahminan. Prinsip-Prinsip Dasar Konsepsi
Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 1986.
Zuhairini, Metodik Pendidikan Islam. Malang: IAIN Tarbiyah
Sunan Ampel Press, 1990.
[1]Abd. Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan
Islam; Paradigma Baru Pendidikan Hadhari Berbasis Integratif-Interkonegtif (Jakarta:
Rajawali Press, 2011), h. 13.
[2]Ah}mad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam
Persfektif Islam (Bandung; Remaja Rosydakarya, 1994), h. 204.
[3]Wan Moh}d. Nor Wan Daud, The Concept of
Knowledge in Islam and its Implication for Education in a Develoving Country (London;
Mansell, 1989), h. 10.
[4]H.A.R. Tilaar,
Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad
21 (Magelang; Tera Indonesia, 1998), h. 245.
[5]Ibnu ‘Abdilla@h Muh}ammad bin Ah}mad
al-Ansari@ al-Qurtubi@, Tafsi@r
al-Qurtubi@ (Kairo: Duru@sy, tt.), h. 15.
[6]Louis Ma’luf, Al-Munjid fi Lugah} (Beirut:
Da@r al-Masyriq, 1960), h. 6.
[7]Fat}h}ur Ra@z}i, Tafsir Fathur Razi (Teheran:
Da@r al-Kutub al-Ilmiyah, tt.), h. 12
[8]Zuhairini, Metodik Pendidikan Islam (Malang:
IAIN Tarbiyah Sunan Ampel Press, 1990), h. 17.
[9]Abdul Fattah} Jala@l, Min al-Us}uli
al-Tarbawi@yah fi al-Isla@m (Mesir:
Da@rul Kutub Misriyah, 1977), h. 32.
[10]Rasyid Rid}a, Tafsi@r al-Mana@r (Mesir:
Da@r al-Mana@r, 1373 H.), h. 42.
[11]An-Naquid al-Attas, Konsep Pendidikan dalam
Islam (Bandung: Mizan, 1988), h. 17.
[13]M. At}iyah} al-Abrasy, At-Tarbiyah
al-Islamiyah, diterjemah oleh Bustamin A.Goni dan Djohar Bakry (Jakarta:
Bulan Bintang, 1986), h. 32.
[14]Azymuradi Azra, Pendidikan Islam, Tradisi
dan Modernisasi Menuju Melenium Baru (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998), h.
5.
[15]Syahminan Zaini, Prinsip-Prinsip
Dasar Konsepsi Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 1986), h. 107.
[16]Abd. Halim Soebahar, Wawasan
Baru Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), h. 79.
[17]Syekh Sajjad H}usain dan Syekh Ali@ As}raf, Crisis
Muslim Education, diterjemahkan oleh Rahmani Astuti, dengan judul Krisis
Pendidikan Islam (Bandung: Risalah, 1986), h. 2.
[18]Abdurrahma@n an-Nah}lawi@, Us}ulut Tarbiyah
Isla@miyah wa As}alabih} fi Bai@ti wa Madrasati@ wal Mujtama’ diterjemahkan
oleh S}ih}abuddin, Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat
(Jakarta: Gema Insani Press, 1995), h. 26.
[19]Roehan Achwan, Prinsip-Prinsip Pendidikan
Islam Versi Mursi, Jurnal Pendidikan Islam, Vol. I (Yogyakarta: IAIN Sunan
Kalijaga, 1991), h. 50.
[20]Arvin Saputra, Masa Depan
Pendidikan (Batam: Lucky Publishers, 2003), h. 61.
[21]Ibid.
[22]H.A.R. Tilaar, loc.cit.
[23]M. Irsyad Sudiro, Pendidikan Agama dalam
Masyarakat Modern, Seminar dan Lokakarya Nasional Revitalisasi Pendidikan
Agama Luar Sekolah dalam Masyarakat Modern, Cirebon, tanggal 30-31 Agustus
1995, h. 5.
[24]Djamaluddin Ancok, Membangun Kompetensi
Manusia dalam Milenium ke Tiga, Psikologika Jurnal Pemikiran dan Penelitian
Psikologika, nomor 6 Tahun III, UII, 1998, h. 5.
[26]A. Malik Fadjar, Menyiasati Kebutuhan
Masyarakat Modern Terhadap Pendidikan Agama Luar Sekolah, Seminar dan
Lokakarya Pengembangan Pendidikan Islam Menyongsong Abad 21, Cirebon, IAIN,
tanggal 31 Agustus s/d 1 September 1995, h. 3.
[27]A. Malik Fadjar, op.cit., h. 4.
[28]Ibid.
[29]A. Malik Fadjar, op.cit., h. 4.
[32]M. Dimyati Machmud, Psikologi Pendidikan (Yogyakarta:
BPFE, 1990), h. 3.
[33]Azumardi Azra dalam Marwan Saridjo, Bunga
Rampai Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Amisco, 1996), h. 3.
[34]A. Syafi’I Ma’arif, dkk., Pendidikan
Islam di Indonesia (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1991), h. 3.
[35]Soroyo, Antisipasi Pendidikan Islam dan
Perubahan Sosial Menjangkau Tahun 2000 dalam Muslih Usa (Ed.), Pendidikan
Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991),
h. 45.
[36]Faz}h}ur Rahma@n, Isla@m and Modernity,
Tranformation of An Intellectual Tradition diterjemah Ah}sin Moh}ammad
(Jakarta: Pustaka, 1985), h. 155-160. Lihat juga, Ah}mad Syafi’I Ma’arif, Pemikiran
Tentang Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia dalam Muslih Usa (Ed.), Pendidikan Islam di
Indonesia Antara Cita dan Fakta (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991), h. 150
[37]Anwar Jasin, Kerangka Dasar Pembaharuan
Pendidikan Islam : Tinjauan Filosofis (Jakarta: Rineka Cipta, 1985), h. 15.
[38]A. Malik Fajar, op.cit., h. 5.
[39]M. Irsyad Sudiro, loc.cit.
[40]Djohar, Omong Kosong, Tanpa Mengubah UU No.
2/89, Koran Harian Kedaulatan Rakyat tanggal
4 Mei 1999, h. 12.
[41]S.R. Parker, et. al., Sosiologi Industri (Jakarta:
Rineka Cipta, 1990), h. 15.
[42]A. Malik Fadjar, op.cit., h. 1.
[43]Djamaluddin Ancok, op.cit., h. 5.
